SMA Kebumian OSN

1 / 20

Observasi langsung di M87 shadow 42muas EHT di Equator – V16 B-V1.18 par M87 shadow 42muas EHT di Equator – V16 B-V1.18 paralaks19.4mas 31. Hitung: (a) analisis fisis (Rp/Rs=√ΔF transit, M=-2.76logP-1.4 Cepheid, mass function bintang ganda M sin³i = P K³/2πG, SN Ia d=v/H0 v=zc), (b) koreksi ekstingsi Av=3.1E(B-V) dan distance modulus m-M=5logd-5+Av, (c) evaluasi bias Malmquist, false positive, dan follow-up TESS/GAIA/JWST.

2 / 20

Pada penampang geologi, pengendapan serpih terjadi paling bawah, kemudian pengendapan batupasir menindihnya. Setelah itu intrusi sill basaltik memotong kedua lapisan, lalu pembentukan sesar geser kanan menggeser seluruh satuan, dan paling atas terbentuk pengendapan endapan aluvial muda. Manakah urutan kejadian dari tua ke muda yang benar?

3 / 20

Monsoon onset pentad 60 low level jet 25m/s di Surabaya. Jelaskan dinamika atmosfer (MJO Kelvin-Rossby, IOD Bjerknes, siklon WISHE, cold surge, orografis Froude), hitung LCL=125(T-Td), CAPE, K-index, LI, shear 0-6 km, dan prediksi dampak hujan/banjir/kabut asap di Kalimantan Selatan serta bedakan konvektif 50 dBZ vs stratiform bright band.

4 / 20

Di Karst Maros, supererupsi VEI8 DRE 2800km3 winter. Jelaskan mekanisme fisik utama dan hukum relevan (Wells-Coppersmith L=10^(0.59M-2.44), Mogi ΔV=πa²Δh, Airy r=hρc/(ρm-ρc), atau Bowen), hitung parameter kuantitatif (slip deficit = rate×time, volume magma, root isostasi, atau faktor keamanan), dan evaluasi model alternatif yang salah serta susun mitigasi berbasis sains.

5 / 20

Mentawai – karst dissolution – varian 278 – analis Mentawai – karst dissolution – varian 278 – analisis multi-sensor. Lakukan: (a) identifikasi mekanisme (subduksi/obduksi/dome collapse/likuifaksi/isostasi/Bowen) dengan hukum (Wells-Coppersmith L=10^(0.59M-2.44), Mogi ΔV=πa²Δh, Airy r=hρc/(ρm-ρc)), (b) kalkulasi kuantitatif spesifik lokasi (misal slip deficit = rate×time, root, volume, FS likuefaksi), (c) tolak model alternatif (creep vs locked, Airy vs Pratt, open vs closed degassing) dan susun mitigasi KRB/polder/tata ruang untuk Banjarmasin/Bandung/Padang.

6 / 20

Catatan seismogram menunjukkan Stasiun B: selisih S-P 42 detik; Stasiun C: selisih S-P 11 detik; Stasiun A: selisih S-P 59 detik; Stasiun E: selisih S-P 40 detik; Stasiun D: selisih S-P 55 detik. Stasiun mana yang paling jauh dari episentrum?

7 / 20

Catatan seismogram menunjukkan Stasiun A: selisih S-P 21 detik; Stasiun B: selisih S-P 19 detik; Stasiun C: selisih S-P 26 detik; Stasiun D: selisih S-P 37 detik; Stasiun E: selisih S-P 31 detik. Stasiun mana yang paling jauh dari episentrum?

8 / 20

Observasi langsung di Tabby dip20% asimetris reddening no IR komet swarm Tabby dip20% asimetris reddening no IR komet swarm di Bosscha – V11 B-V0.28 paralaks1.5mas 189. Hitung: (a) analisis fisis (Rp/Rs=√ΔF transit, M=-2.76logP-1.4 Cepheid, mass function bintang ganda M sin³i = P K³/2πG, SN Ia d=v/H0 v=zc), (b) koreksi ekstingsi Av=3.1E(B-V) dan distance modulus m-M=5logd-5+Av, (c) evaluasi bias Malmquist, false positive, dan follow-up TESS/GAIA/JWST.

9 / 20

Studi komparatif Pasut spring neap di Equator – V13 B-V0.44 paralak dengan Pasut spring neap di Equator – V13 B-V0.44 paralaks14.4mas 48. Hitung: (a) analisis fisis (Rp/Rs=√ΔF transit, M=-2.76logP-1.4 Cepheid, mass function bintang ganda M sin³i = P K³/2πG, SN Ia d=v/H0 v=zc), (b) koreksi ekstingsi Av=3.1E(B-V) dan distance modulus m-M=5logd-5+Av, (c) evaluasi bias Malmquist, false positive, dan follow-up TESS/GAIA/JWST.

10 / 20

Pemodelan numerik Jet subtropical 50m/s Rossby di Pontianak – r mengindikasikan Jet subtropical 50m/s Rossby di Pontianak – radar Doppler – 14. Kerjakan: (a) jelaskan dinamika (MJO Kelvin-Rossby, IOD Bjerknes, siklon WISHE, orografis Froude, cold surge), (b) hitung LCL=125(T-Td), CAPE=∫RdΔTv dlnp, K-index=(T850-T500)+Td850-(T700-Td700), shear 0-6km, (c) prediksi dampak hujan/banjir/kabut asap di Kalimantan Selatan dan kaitan deforestasi 30% serta aerosol, bedakan konvektif 50dBZ vs stratiform bright band.

11 / 20

Batuan menunjukkan metamorfisme derajat rendah dengan mineral klorit dan aktinolit pada setting regional tingkat awal. Fasies metamorf apakah yang paling mungkin?

12 / 20

Pada penampang geologi, pengendapan batulanau terjadi paling bawah, kemudian pengendapan serpih menindihnya. Setelah itu intrusi dike diabas memotong kedua lapisan, lalu pembentukan sesar naik menggeser seluruh satuan, dan paling atas terbentuk pengendapan endapan aluvial muda. Manakah urutan kejadian dari tua ke muda yang benar?

13 / 20

Kabut asap PM2.5 1000 AOD 3.5 inhibisi aerosol di Samarinda. Jelaskan dinamika atmosfer (MJO Kelvin-Rossby, IOD Bjerknes, siklon WISHE, cold surge, orografis Froude), hitung LCL=125(T-Td), CAPE, K-index, LI, shear 0-6 km, dan prediksi dampak hujan/banjir/kabut asap di Kalimantan Selatan serta bedakan konvektif 50 dBZ vs stratiform bright band.

14 / 20

Downburst DCAPE di Biak – sounding 00Z – 231 Downburst DCAPE di Biak – sounding 00Z – 231. Kerjakan: (a) jelaskan dinamika (MJO Kelvin-Rossby, IOD Bjerknes, siklon WISHE, orografis Froude, cold surge), (b) hitung LCL=125(T-Td), CAPE=∫RdΔTv dlnp, K-index=(T850-T500)+Td850-(T700-Td700), shear 0-6km, (c) prediksi dampak hujan/banjir/kabut asap di Kalimantan Selatan dan kaitan deforestasi 30% serta aerosol, bedakan konvektif 50dBZ vs stratiform bright band.

15 / 20

Pemodelan numerik Palu Trench – eclogite 2GPa exhumation – vari mengindikasikan Palu Trench – eclogite 2GPa exhumation – varian 68 – integrasi GPS-InSAR-seismik. Lakukan: (a) identifikasi mekanisme (subduksi/obduksi/dome collapse/likuifaksi/isostasi/Bowen) dengan hukum (Wells-Coppersmith L=10^(0.59M-2.44), Mogi ΔV=πa²Δh, Airy r=hρc/(ρm-ρc)), (b) kalkulasi kuantitatif spesifik lokasi (misal slip deficit = rate×time, root, volume, FS likuefaksi), (c) tolak model alternatif (creep vs locked, Airy vs Pratt, open vs closed degassing) dan susun mitigasi KRB/polder/tata ruang untuk Banjarmasin/Bandung/Padang.

16 / 20

Pada penampang geologi, pengendapan batugamping terjadi paling bawah, kemudian pengendapan batupasir menindihnya. Setelah itu intrusi sill basaltik memotong kedua lapisan, lalu pembentukan sesar geser kiri menggeser seluruh satuan, dan paling atas terbentuk pengendapan endapan aluvial muda. Manakah urutan kejadian dari tua ke muda yang benar?

17 / 20

Studi komparatif Orografis Meratus Froude 0.8 seeder-feeder di Jaka dengan Orografis Meratus Froude 0.8 seeder-feeder di Jakarta – Himawari-8 IR – 238. Kerjakan: (a) jelaskan dinamika (MJO Kelvin-Rossby, IOD Bjerknes, siklon WISHE, orografis Froude, cold surge), (b) hitung LCL=125(T-Td), CAPE=∫RdΔTv dlnp, K-index=(T850-T500)+Td850-(T700-Td700), shear 0-6km, (c) prediksi dampak hujan/banjir/kabut asap di Kalimantan Selatan dan kaitan deforestasi 30% serta aerosol, bedakan konvektif 50dBZ vs stratiform bright band.

18 / 20

Di Sorong, Seed-Idriss PGA 0.4g likuefaksi. Jelaskan mekanisme fisik utama dan hukum relevan (Wells-Coppersmith L=10^(0.59M-2.44), Mogi ΔV=πa²Δh, Airy r=hρc/(ρm-ρc), atau Bowen), hitung parameter kuantitatif (slip deficit = rate×time, volume magma, root isostasi, atau faktor keamanan), dan evaluasi model alternatif yang salah serta susun mitigasi berbasis sains.

19 / 20

CAPE 2500 CIN 50 LFC 800 EL 150 K-index 38 LI -6 supercell shear 20m/s di Merauke. Jelaskan dinamika atmosfer (MJO Kelvin-Rossby, IOD Bjerknes, siklon WISHE, cold surge, orografis Froude), hitung LCL=125(T-Td), CAPE, K-index, LI, shear 0-6 km, dan prediksi dampak hujan/banjir/kabut asap di Kalimantan Selatan serta bedakan konvektif 50 dBZ vs stratiform bright band.

20 / 20

Fenomena karst berikut dijelaskan sebagai: cekungan karst sangat luas dan relatif datar dengan drainase bawah tanah. Istilah yang tepat untuk fitur tersebut adalah apa?

Your score is

The average score is 0%

0%

Scroll to Top