SMA Kebumian OSN

1 / 20

Pada penampang geologi, pengendapan batugamping terjadi paling bawah, kemudian pengendapan serpih menindihnya. Setelah itu intrusi sill basaltik memotong kedua lapisan, lalu pembentukan sesar geser kiri menggeser seluruh satuan, dan paling atas terbentuk pengendapan endapan aluvial muda. Manakah urutan kejadian dari tua ke muda yang benar?

2 / 20

QBO 28 bulan pengaruh monsun di Banjarbaru. Jelaskan dinamika atmosfer (MJO Kelvin-Rossby, IOD Bjerknes, siklon WISHE, cold surge, orografis Froude), hitung LCL=125(T-Td), CAPE, K-index, LI, shear 0-6 km, dan prediksi dampak hujan/banjir/kabut asap di Kalimantan Selatan serta bedakan konvektif 50 dBZ vs stratiform bright band.

3 / 20

Sampel mineral menunjukkan kilap kaca, tanpa belahan jelas, dan umumnya pada batuan mafik-ultramafik. Mineral apakah yang paling mungkin?

4 / 20

Sampel mineral menunjukkan sering putih, kekerasan 3, dan bereaksi kuat dengan HCl. Mineral apakah yang paling mungkin?

5 / 20

Radiasi blackbody kesetimbangan energi di Manado. Jelaskan dinamika atmosfer (MJO Kelvin-Rossby, IOD Bjerknes, siklon WISHE, cold surge, orografis Froude), hitung LCL=125(T-Td), CAPE, K-index, LI, shear 0-6 km, dan prediksi dampak hujan/banjir/kabut asap di Kalimantan Selatan serta bedakan konvektif 50 dBZ vs stratiform bright band.

6 / 20

Pada penampang geologi, pengendapan batulanau terjadi paling bawah, kemudian pengendapan batugamping menindihnya. Setelah itu intrusi urat granit memotong kedua lapisan, lalu pembentukan sesar naik menggeser seluruh satuan, dan paling atas terbentuk pengendapan batulempung muda. Manakah urutan kejadian dari tua ke muda yang benar?

7 / 20

Radiasi blackbody di Samarinda – radar Doppler – 2 Radiasi blackbody di Samarinda – radar Doppler – 205. Kerjakan: (a) jelaskan dinamika (MJO Kelvin-Rossby, IOD Bjerknes, siklon WISHE, orografis Froude, cold surge), (b) hitung LCL=125(T-Td), CAPE=∫RdΔTv dlnp, K-index=(T850-T500)+Td850-(T700-Td700), shear 0-6km, (c) prediksi dampak hujan/banjir/kabut asap di Kalimantan Selatan dan kaitan deforestasi 30% serta aerosol, bedakan konvektif 50dBZ vs stratiform bright band.

8 / 20

Gelombang 3 m di Laut Jawa akibat low level jet 25 m/s variasi 111. Analisis fisis transit, Cepheid, bintang ganda, SN Ia, koreksi ekstingsi Av dan distance modulus, evaluasi bias Malmquist dan follow-up.

9 / 20

UHI Jakarta 5C thunderstorm sore di Biak. Jelaskan dinamika atmosfer (MJO Kelvin-Rossby, IOD Bjerknes, siklon WISHE, cold surge, orografis Froude), hitung LCL=125(T-Td), CAPE, K-index, LI, shear 0-6 km, dan prediksi dampak hujan/banjir/kabut asap di Kalimantan Selatan serta bedakan konvektif 50 dBZ vs stratiform bright band.

10 / 20

Di Sesar Bogor, supershear 4.1km/s Mach cone likuefaksi Petobo. Jelaskan mekanisme fisik utama dan hukum relevan (Wells-Coppersmith L=10^(0.59M-2.44), Mogi ΔV=πa²Δh, Airy r=hρc/(ρm-ρc), atau Bowen), hitung parameter kuantitatif (slip deficit = rate×time, volume magma, root isostasi, atau faktor keamanan), dan evaluasi model alternatif yang salah serta susun mitigasi berbasis sains.

11 / 20

Evaluasi terpadu Toba – AFT apatite – varian 164 – evalua Toba – AFT apatite – varian 164 – evaluasi hazard berbasis data. Lakukan: (a) identifikasi mekanisme (subduksi/obduksi/dome collapse/likuifaksi/isostasi/Bowen) dengan hukum (Wells-Coppersmith L=10^(0.59M-2.44), Mogi ΔV=πa²Δh, Airy r=hρc/(ρm-ρc)), (b) kalkulasi kuantitatif spesifik lokasi (misal slip deficit = rate×time, root, volume, FS likuefaksi), (c) tolak model alternatif (creep vs locked, Airy vs Pratt, open vs closed degassing) dan susun mitigasi KRB/polder/tata ruang untuk Banjarmasin/Bandung/Padang.

12 / 20

Observasi langsung di Merapi – coupling 80% defisit 8m – varian 170 – in Merapi – coupling 80% defisit 8m – varian 170 – integrasi GPS-InSAR-seismik. Lakukan: (a) identifikasi mekanisme (subduksi/obduksi/dome collapse/likuifaksi/isostasi/Bowen) dengan hukum (Wells-Coppersmith L=10^(0.59M-2.44), Mogi ΔV=πa²Δh, Airy r=hρc/(ρm-ρc)), (b) kalkulasi kuantitatif spesifik lokasi (misal slip deficit = rate×time, root, volume, FS likuefaksi), (c) tolak model alternatif (creep vs locked, Airy vs Pratt, open vs closed degassing) dan susun mitigasi KRB/polder/tata ruang untuk Banjarmasin/Bandung/Padang.

13 / 20

Observasi langsung di CAPE 2500 CIN 50 K-index 38 supercell di Merauke – CAPE 2500 CIN 50 K-index 38 supercell di Merauke – sounding 00Z – 123. Kerjakan: (a) jelaskan dinamika (MJO Kelvin-Rossby, IOD Bjerknes, siklon WISHE, orografis Froude, cold surge), (b) hitung LCL=125(T-Td), CAPE=∫RdΔTv dlnp, K-index=(T850-T500)+Td850-(T700-Td700), shear 0-6km, (c) prediksi dampak hujan/banjir/kabut asap di Kalimantan Selatan dan kaitan deforestasi 30% serta aerosol, bedakan konvektif 50dBZ vs stratiform bright band.

14 / 20

Pada penampang geologi, pengendapan batupasir terjadi paling bawah, kemudian pengendapan batulanau menindihnya. Setelah itu intrusi sill basaltik memotong kedua lapisan, lalu pembentukan sesar normal menggeser seluruh satuan, dan paling atas terbentuk pengendapan batulempung muda. Manakah urutan kejadian dari tua ke muda yang benar?

15 / 20

Pemodelan numerik Pasut M2 1.2 S2 0.4 K1 0.6 Formzahl 0.56 rob mengindikasikan Pasut M2 1.2 S2 0.4 K1 0.6 Formzahl 0.56 rob di Timor – CTD 29C ADCP 0.7m/s 128. Analisis: (a) identifikasi water mass (STLW Smax 34.6, AAIW O2min) dan dinamika (Ekman Me=τ/ρf 90° kiri BBS, geostropik vg=g/f dη/dx, internal wave N, Kelvin wave), (b) hitung transport dan upwelling/downwelling, (c) dampak produktivitas tuna, navigasi kapal selam, dan RSLR Banjarmasin = subsidence 5-10cm/th + SLR 3.3mm/th + fingerprint.

16 / 20

Di Karst Maros, laterit nikel Sorowako. Jelaskan mekanisme fisik utama dan hukum relevan (Wells-Coppersmith L=10^(0.59M-2.44), Mogi ΔV=πa²Δh, Airy r=hρc/(ρm-ρc), atau Bowen), hitung parameter kuantitatif (slip deficit = rate×time, volume magma, root isostasi, atau faktor keamanan), dan evaluasi model alternatif yang salah serta susun mitigasi berbasis sains.

17 / 20

Pada penampang geologi, pengendapan batupasir terjadi paling bawah, kemudian pengendapan batulanau menindihnya. Setelah itu intrusi dike diabas memotong kedua lapisan, lalu pembentukan sesar geser kiri menggeser seluruh satuan, dan paling atas terbentuk pengendapan konglomerat penutup. Manakah urutan kejadian dari tua ke muda yang benar?

18 / 20

Observasi langsung di Thermohaline NADW AABW di Timor – CTD 27C ADCP 0.4 Thermohaline NADW AABW di Timor – CTD 27C ADCP 0.4m/s 166. Analisis: (a) identifikasi water mass (STLW Smax 34.6, AAIW O2min) dan dinamika (Ekman Me=τ/ρf 90° kiri BBS, geostropik vg=g/f dη/dx, internal wave N, Kelvin wave), (b) hitung transport dan upwelling/downwelling, (c) dampak produktivitas tuna, navigasi kapal selam, dan RSLR Banjarmasin = subsidence 5-10cm/th + SLR 3.3mm/th + fingerprint.

19 / 20

Interpretasi data primer Cold surge 1040hPa cross-equatorial 15m/s di Cold surge 1040hPa cross-equatorial 15m/s di Manado – reanalysis ERA5 – 239. Kerjakan: (a) jelaskan dinamika (MJO Kelvin-Rossby, IOD Bjerknes, siklon WISHE, orografis Froude, cold surge), (b) hitung LCL=125(T-Td), CAPE=∫RdΔTv dlnp, K-index=(T850-T500)+Td850-(T700-Td700), shear 0-6km, (c) prediksi dampak hujan/banjir/kabut asap di Kalimantan Selatan dan kaitan deforestasi 30% serta aerosol, bedakan konvektif 50dBZ vs stratiform bright band.

20 / 20

Radiasi blackbody kesetimbangan energi di Banjarbaru. Jelaskan dinamika atmosfer (MJO Kelvin-Rossby, IOD Bjerknes, siklon WISHE, cold surge, orografis Froude), hitung LCL=125(T-Td), CAPE, K-index, LI, shear 0-6 km, dan prediksi dampak hujan/banjir/kabut asap di Kalimantan Selatan serta bedakan konvektif 50 dBZ vs stratiform bright band.

Your score is

The average score is 77%

0%

Scroll to Top